Indonesia Unite Regional Cilegon

#Indonesia Unite

Oktober 3, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Berawal dari peristiwa bom yang terjadi di hotel J.W.Marriott dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009, yang kemudian menjadi pembicaraan diantara pengguna Twitter dengan menyertakan hashtag topic #indonesiaunite.

Tanpa ada komando dari siapapun, tanpa ada koordinasi, semua sepakat untuk mengusung #indonesiaunite menjadi sebuah gerakan. Sebuah inisiatif bottom up, tidak ada yg koordinir, semua berjalan sendiri, karena secara nurani kita punya pandangan serupa akan teror.

Siapa yang memulai #indonesiaunite?
Semua memulai nya secara serentak bersama atas gerakan hati yang sama atas rasa marah, kecewa dan sedih.

Siapa penggerak #indonesiaunite?
Ribuan pengguna Twitter dan online users lainnya.

Tertarik ikut dalam gerakan ini?
Suarakan “KAMI TIDAK TAKUT – #IndonesiaUnite” di Facebook Status, Twitter, Plurk, atau dimanapun. Online ataupun offline.

→ Tinggalkan KomentarKategori: About #Indonesia Unite
Ditandai:

Renungan Kebangsaan

Oktober 3, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Setiap tahun kita merayakan HUT Kemerdekaan, segudang pertanyaan pun selalu muncul: “Sebagai Bangsa apakah kita sudah sungguh-sungguh merdeka?”, “Apakah Kedaulatan sudah berada di tangan rakyat?”, “Apakah Hasil Pembangunan sudah dinikmati oleh seluruh anak bangsa? “Apakah Keadilan Sosial dan Kesejahteraan bagi Semua sudah terwujud?

Kita bertanya, pun kita menjawab sendiri. Dan, jawaban-jawaban itu tidak menggairahkan. Jawaban-jawaban itu cenderung mematahkan semangat kita. Kita mengeluh, sejak “tempo doeloe” hingga
“hari gini”.. Sejak Masa Pemerintahan Bung Karno yang kerap disebut “Orde Lama”, hingga Masa Pemerintahan Pak Harto yang disebut “Orde Baru” padahal berkuasa lebih lama. Saat ini dalam Era Reformasi pun kita masih mengeluh.
Ada yang mengeluhkan pembangunan yang tidak merata, ada yang mengeluhkan anggaran pendidikan, ada pula yang mengeluhkan peradilan yang konon masih dikuasai oleh gerombolan mafia di balik layar.

Di tengah keluhan-keluhan itu, kita pun sering mendengar kesimpulan yang cukup bijak bahwasanya seluruh masalah itu disebabkan oleh melenturnya semangat kebangsaan kita.

Ya, Semangat Kebangsaan kita memang telah melentur. Di Masa Pemerintahan Soekarno – kita miskin, tetapi kita masih bangga akan ke-Indonesia-an kita. Di Masa Pemerintahan Soeharto – kita korup, tapi masih menjunjung tinggi nilai kebangsaan….. Sekarang, di Era Reformasi ini, otak serta pikiran kita malah mengalami deformasi, Ya Allah, Ya Rabb, Wahai Gusti, Widhi, Tao, Buddha, Bapa di Surga – aku sakit, kita sakit!

Semangat Kebangsaan kita melentur, karena kita tidak pernah menyuntiki jiwa kita dengan energi baru. Semangat Kebangsaan, atau semangat apa saja, membutuhkan energi. Saat ini, Semangat Kebangsaan kita memang sudah kehausan energi.

Semangat Kebangsaan tidak sama dengan kepercayaan, agama, doktrin, maupun dogma. Kepercayaan, agama, doktrin maupun dogma adalah urusan “titik”. Pokoknya begitu. Dari sono-nya begitu. He, jangan main-main ya – tidak takut neraka?
Kepercayaan, agama, doktrin dan dogma – dapat dipaksakan pada seorang anak yang baru lahir. Tergantung lahir dalam keluarga dengan latar belakang agama mana – maka anak itu pun langsung diberi cap agama yang sama – lengkap dengan sistem kepercayaan, doktrin, dogma, bahkan akidah dan ritual. Titik.

Tidak demikian dengan Semangat Kebangsaan.

Semangat Kebangsaan bukanlah “Status Kewarganegaraan”. Perkara Status Kewarganegaraan hampir sama dengan Identitas Agama. Cap itu pun dapat diberikan kepada seorang anak yang baru lahir. Tergantung, tentunya, pada peraturan pemerintah dimana anak itu dilahirkan dan status kewarganegaraan kedua orangtuanya.

Agama, akidah agama, kepercayaan, status kewarnegaraan, dogma dan doktrin – semuanya dapat dipaksakan. Tetapi, “keagamaan” tidak dapat dipaksakan. Orang boleh beragama secara formal. Boleh rajin sembahyang secara formal pula. Boleh menjalani akidah agama serta kepercayaannya secara formal. Boleh bersandar pada seperangkat dogma dan doktrin yang sudah baku.
Namun, belum tentu ia ber-“keagamaan”. Belum tentu nilai-nilai keagamaan itu sedemikian rupa meresap di dalam jiwanya, sehingga seluruh hidupnya menjadi sebuah interpretasi yang menyejukkan dari nilai-nilai tersebut.

Persis seperti itu juga dengan Semangat Kebangsaan. Status kewarganegaraan seseorang tidak menjamin bila yang bersangkutan memiliki Semangat Kebangsaan. Sebagaimana apa yang tercantum pada kolom agama KTP seseorang tidak menjami akhlak keagamaannya.
Semangat Kebangsaan tidak pernah lahir bersama seseorang. Semangat Kebangsaan muncul dari “kecerdasan” seseorang berpikir, dari “kemampuan” seseorang berperasaan, dari otak yang jernih dan hati yang lembut.

Semangat Kebangsaan lahir dari pengetahuan tentang sejarah dan pemahaman tentang budaya. Semangat Kebangsaan muncul ketika kita bangga akan nilai-nilai Kearifan Lokal.

Pertanyaan berikutnya adalah: Apa saja yang telah kita lakukan selama ini untuk memunculkan rasa bangga seperti itu?
Sekelompok orang diantara kita malah masih tetap membanggakan kearifan-kearifan asing, bahkan tradisi-tradisi asing. Mereka yang disebut fundamentalis dan agamais, berkiblat pada Arab, atau Cina, atau India, atau Israel. Sebaliknya mereka yang disebut modernis berkiblat pada Barat.

Sejarah dan Budaya Lokal tidak dipelajari. Tradisi-Tradisi Lokal tidak dipahami. Kearifan Lokal tidak dihargai. Segala sesuatu yang asing malah dijunjung tinggi. Bila keadaan ini tidak segera berubah, maka kita akan hancur sebagai negara dan bangsa. Wacana tentang Piagam Jakarta sudah berkembang menjadi tuntutan, upaya, atau apa pun sebutannya tentang negara berbasis Khilafah.

Tidak ada yang salah dengan Piagam Jakarta maupun Sistem Khilafah – hanya saja keduanya itu tidak cocok dengan Iklim Indonesia. Wacana yang baru muncul bila Khilafah akan tetap menghargai hak-hak minoritas dan menerima pluralitas – adalah sesuatu yang baru. Karena, belum lama beberapa diantara kita yang sekarang menerima pluralitas pernah terlibat dalam upaya mengharamkan pluralitas karena dianggap bertentangan dengan agama. Itu baru setahun dua tahun yang lalu. Masih ingat? Sekarang, pluralitas sudah tidak menjadi soal!
Baik, kemudian kenapa mesti mewacanakan sesuatu yang mengarah pada keseragaman? Istilah Khilafah itu sendiri, karena berdasarkan akidah agama Islam, sudah pasti mendapatkan resistensi dari kelompok-kelompok lain. Kenapa Papua dan Sulawesi Utara yang mayoritas Kristen mesti menerimanya? Kenapa pula Bali yang mayoritas Hindu mesti menerimanya?

Khilafah, sebatas wacana saja sudah cukup untuk mengantar bangsa ini menuju disintegrasi. Saya menyangsikan kearifan kita yang ikut memberi energi pada wacana tersebut, dengan menghadiri rapat-rapat akbar, di manakah kesadaran kita?

Pemerintah tidak bisa diam, tidak boleh diam.

Jangankan upaya, wacana untuk merubah dasar negara, dan sistem kenegaraan pun sudah cukup untuk memulai proses disintegrasi bangsa.

Akhir kata….. betapa saya mendambakan seorang pemimpin yang menjelang hari ulang tahun kemerdekaan akan memerdekakan jiwanya dan mendatangi setiap tempat ibadah, setiap tempat suci – tidak hanya salah satu saja….. Karena inilah budaya kita, nilai apresiatif inilah yang melahirkan semboyan bangsa: Bhinneka Tunggal Ika…..

Jangan sekedar wacana, tidak hanya berbicara saja – buktikan Warna Kebangsaanmu Bung, Saudaraku, Sobatku, Pemimpinku….. Aku selalu memperhatikan setiap gerak-gerikmu, karena aku sangat mencintaimu. Aku ingin namamu tercatat dengan tinta emas sebagai Pemimpin Rakyat dan Bangsa Indonesia…… Bukan sebagai kepala suku……..“Bagimu, barangkali, sekadar Tanah-Air… Sebidang tanah yang dapat kau jualbelikan, dapat kau gadaikan demi kepingan emas… Dan, air yang tidak perlu kau tahu sumbernya, asal dapat kau minum.

Hari ini kau masih memijakkan kakimu di atas tanah ini, besok kau akan memijakkan kakimu di atas tanah yang lain, dan melupakan tanah ini. Hari ini kau masih minum air dari sumur yang satu ini, besok kau bisa memilih sumur yang lain.

Bagiku, Indonesia adalah Ibu Pertiwi. Aku tidak dapat menggadaikan ibu demi surga, demi agama, demi apa saja – apalagi demi kepingan emas yang tak bermakna. Aku lahir “lewat” ibu kandungku, namun yang “melahirkan”ku sesungguhnya Ibu Pertiwi. Bagiku, Dialah Wujud Ilahi yang Nyata sekaligus Tak-Nyata…

KAU MUSLIM
KAU KRISTEN
KAU KATHOLIK
KAU HINDU
KAU BUDDHIS
KAU KONG HU CHU
KAU HITAM
KAU PUTIH
KAU KUNING
KAU SIPIT
KAU BELO
KAU MANCUNG
KAU PESEK
KAU KRITING
KAU LURUS
KAU BOTAK
SIAPAPUN KAU, KAU ORANG IN!!!DONESIA, AKU CINTA KAU…..!

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized
Ditandai: ,

#INDONESIA UNITE REGIONAL CILEGON

Oktober 3, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Agar mempermudah dan lebih efektif dalam penyebaran semangat dari #Indonesia Unite dan dapat melakukan aksi nyata dari semangat #Indonesia Unite maka dibuatlah #Indonesia Unite Regional Kota Cilegon. Untuk itu maka dikumpulkan dahulu para pendukung semangat #Indonesia Unite pada Blog ini..

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized
Ditandai:

AMANAT BERSAMA #INDONESIA UNITE

Oktober 3, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

1. Kami adalah generasi baru, pewaris sah Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Kami adalah generasi baru, yang menolak untuk hidup dan tumbuh dengan rasa takut. Kami memilih menjadi pemberani.

3. Kami adalah generasi baru, yang percaya setiap kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Karena itu, kami akan berusaha untuk memutus rantai kekerasan melalui karya kemanusiaan di mana pun kami berada.

4. Kami adalah generasi baru, yang percaya penuh dengan prinsip demokrasi, kemanusiaan, kesetaraan, dan saling menghormati. Karena itu, kami menolak segala bentuk diskriminasi.

5. Kami adalah generasi baru, yang akan membangun sebuah bangsa dan negara yang bermartabat dan terhormat, mampu mempersatukan Indonesia, melindungi hak-hak individu, berdiri di atas semua golongan, serta memuliakan manusia-manusia yang menjadi rakyatnya.

→ Tinggalkan KomentarKategori: About #Indonesia Unite
Ditandai: